Pola Sidik Jari Tangan dan Ciri Fisik Penderita Sindrom Down di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Jember

  • Rike Oktarianti Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
  • Indah Yunitasari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember
  • Mahriani Mahriani Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember

Abstract

Sindrom down merupakan kelainan akibat penambahan jumlah kromosom tubuh nomor 21 sehingga mempengaruhi ciri fisik, pola dan jumlah sulur ujung jari tangan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ciri fisik, pola sidik jari dan jumlah sulur penderita sindrom down. Pengambilan sampel dilakukan di SLB Kota Jember, data ciri fisik didokumentasikan, dideskripsikan dan dianalisis dengan Uji Wilcoxon untuk mengetahui signifikansi perbedaan dengan orang normal. Pola dan jumlah sulur dilakukan perekaman dengan menempelkan ujung jari pada bantalan tinta selanjutnya ditempelkan pada kertas HVS. Selanjutnya ditentukan pola sidik jari dan dihitung jumlah sulurnya. Jumlah sulur selanjutnya diuji Independent Sampel T-Test untuk mengetahui perbedaan dengan orang normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ciri fisik siswa SLB Kota Jember mempunyai perbedaan yang signifikan dengan orang normal meliputi hidung pesek, mulut kecil dan cenderung membuka, jari tangan pendek. Ketiga parameter tersebut pada Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan yang nyata dengan orang normal. Karakter lain yaitu mata sipit dan membujur keatas serta terdapat lipatan mata (epikantus), ujung lidah yang melebar, telapak tangan siswa umumnya mempunyai garis simian, jari kelingking yang bengkok, serta pada jari kaki pertama dan kedua mempunyai jarak lebar. Pola sidik jari siswa adalah loop ulnar (84,17%) dengan jumlah sulur rata-rata 145,59 sulur, lebih banyak dari orang normal. Hasil uji Independent Sampel T-Test menunjukkan perbedaan yang signifikan antara siswa penderi sindrom down dengan orang normal

References

[1] Ahmad, M., Silvera-Redondo, dan M. H. Rodriguez. 2010. Nondisjunction and Chromosomal Anomalies. Salud Uninorte, Barranquilla, 26(1):117-133.
[2] Ainur, A., J. Hastuti, dan Z. S. Nugraha. 2009. Pola Sidik Jari Anak-anak Sindrom Down di SLB Bakhti Kencana dan Anak-anak Normal di SLB Budi Mulia Dua Yogyakarta. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia.
[3] Akingbade, A. M., L. C. Saalu, G. G. Akunna, L. E. Anderson, dan F. S. Olusolade. 2014. Finger and Palmar Dermatoglyphic Study Among the Yorubas in Jos, Nigeria. Annals of Bioanthrojournal, 2(2): 49-53.
[4] Altman, N. 2005. Palmistry: The Universal Guide. New York: Sterling Publishing Co., Inc.
[5] Amadino, A., R. Susanti, dan R. Afriant. 2014. Gambaran Pola Dermatoglifi pada Ujung Jari Tangan Penderita Penyakit Hipertensi Esensial di Kota Padang Tahun 2014. Jurnal KesehatanAndalas, 3(1):100-103.
[6] Dias, S. M., P. L. Martis, dan BhavyashreeRai. 2018. Determination of Hand of Origin of Fingerprints by Analysing Fingerprint Characteristics of Whorl Patterns. Journal of Forensik Science and Criminal Investigation, 9(3): 1-12.
[7] Gottimukkula, D. R, R. K. Chakinala, S. Kagithapu, Y. Morishetty, dan G. Puchchakayala. 2017. Down’s Syndrome-Case Series. SM. Journal of Case Reports, 3(1): 1-3.
[8] Grieco, J., M. Pulsifer., K. Seligsohn., B. Skotko, dan A. Schwartz. 2015. Down Syndrome: Cognitive and Behavioral Functioning Across the Lifespan. American Journal of Medical Genetics Part C, 16C: 135-149.
[9] Irawan, R. B., L. Rujito, M. Ferine, dan Z. S. Hidayat. 2010. Perbedaan Pola Sidik Jari Anak-anak Sindrom Down dan Anak-anak Normal di Purwokerto. J. Medical UnSoed, 2(2): 106 -116.
[10] Jenkins, J.B. 1990. Human Genetics. New York: Harper Collins Publishers, Inc.
[11] Kanbar, A. B. 2016. Fingerprint Identification for Forensic Crime Scene Investigation. International Journal of Computer Science and Mobil Computing, 5(8): 60-65.
[12] Kazemi, M., M. Salehi., M. Kheirollahi. 2016. Down Syndrome: Current Status, Challenges and Future Perspectives. Int J Mol Cell Med, 5(3): 125-133.
[13] Kosim, M. S., A. Yunanto, R. Dewi, G. I. Sarosa, dan A. Usman. 2012. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
[14] Laksono, S. P., Qomariyah, dan E. Purwaningsih. 2011. Persentase Distribusi Penyakit Genetik dan Penyakit yang dapat Disebabkan Oleh Faktor Genetik di RSUD Serang. Majalah Kesehatan Pharma Medika, 3(2): 267-271.
[15] Mridula, P. 2014. A Review on Classification of Fingerprint Images. IOSR Journal of Electronics and Communication Engineering, 9(3): 61-66.
[16] Mundijo, T. 2017. Gambaran Pola Sidik Jari dan Sudut Axial triradius Digital (ATD) pada Anak Sekolah Dasar Negeri 144, Talang Betutu, Palembang, Sumatera Selatan. Syifa’ MEDIKA, 7(2): 99-103.
[17] Myrelid, A., J. Gustafsson, B. Ollars, dan G. Anneren. 2002. Growth Charts for Down’s Syndrome from Birth to 18 Years of Age. Arch Dis Child, 87: 97-103.
[18] Nurwahidah, S., W. Soewondo, dan I. S. Sasmita. 2015 Prevalensi Sindroma down di Wilayah Priangan pada Tahun 2015. Jurnal Kedokteran Gigi Unpad, 29(3): 189-195.
[19] Oliver, T. R., E. Feingold, K. Yu, V. Cheung, S. Tinker, M. Yadav-Shah, N. Masse, dan S. L. Sherman. 2008. New Insights into Human Nondisjunction of Chromosome 21 in Oocytes. PloS Genetics, 4(3): 1-9.
[20] Purbasari, K., dan A. R. Sumadji. 2017. Variasi Pola Sidik Jari Mahasiswa Berbagai Suku Bangsa di Kota Madiun. Jurnal Florea, 4(2): 47-54.
[21] Rahma, M. S., dan E. S. Indrawati. 2017. Pengalaman Pengasuhan Anak Down Syndrome. Jurnal Empati, 7(3): 223-232.
[22] Ramani, P., Abhilash, H. J. Sherlin, Anuja, P. Premkumar, Chandrasekar, G. Sentamilselvi, V. R. Janaki. 2011. Conventional Dermatoglyphics. International Journal of Pharma and Bio Sciences, 2(3): 446-458.
[23] Rosida, L., dan R. Panghiyangani. 2006. Gambaran Dermatoglifi pada Penderita Sindrom Down di Banjarmasin dan Martapura Kalimantan Selatan. Jurnal Anatomi Indonesia, 1(2): 71-78.
[24] Sanilkumar, M. N. 2014. The Enigma of the Simian Crease: Case Series with the Literatur Review. Internasional Journal of Contemporary Pediatrics, 1(3): 175-177.
[25] Saraydemir, S., N. Taspinar, O. Erogul, H. Kayserili, dan N. Dinckan. 2012. Down Syndrome Diagnosis Based on Gabor Wavelet Transform. J. Med Syst, 36: 3205-3213.
[26] Siburian, J., E. Anggreini, dan S. F. Hayati. 2010. Analisis Pola Sidik Jari Tangan dan Jumlah Sulur serta Besar Sudut ATD Penderita Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Umum Daerah Jambi. Biospecies, 2(2): 12-17.
[27] Sufitni. 2007. Pola Sidik Jari Pada Kelompok Retardasi Mental dan Kelompok Normal. Majalah Kedokteran Nusantara. 40 (3):180-191.
[28] Sureshbabu, R., R. Kumari, S.Ranugha, R. Sathyamoorthy, C. Udayashankar, dan P. Oudeacoumar. 2011. Phenotypic and Dermatological Manifestations in Down Syndrome. Dermatology Online Journal.
[29] Suryo. 2016. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
[30] Thomas, R., dan D. Harvey. 1992. Atlas Bantu Neonatologi. Jakarta: Hipokrates.
[31] Wati, M., R. R. P. Megahati, dan F. Hayuni. 2016. Pengamatan Pola Sulur Jari dan Telapak Tangan pada Anak Penyandang ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) di Kota Padang. BioCONCETTA, 2(1): 43-49.
Published
2019-12-11
How to Cite
OKTARIANTI, Rike; YUNITASARI, Indah; MAHRIANI, Mahriani. Pola Sidik Jari Tangan dan Ciri Fisik Penderita Sindrom Down di Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Jember. BERKALA SAINSTEK, [S.l.], v. 7, n. 2, p. 34-38, dec. 2019. ISSN 2339-0069. Available at: <https://jurnal.unej.ac.id/index.php/BST/article/view/12441>. Date accessed: 21 feb. 2020. doi: https://doi.org/10.19184/bst.v7i2.12441.
Section
General